Lima Point Pendidikan Anak dalam Islam
ERAMUSLIM – 10 Agu 08 17:01 WIB
Oleh Siti Aisyah Nurmi
Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.
Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.
Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)
Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.
Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:
Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.
Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.
Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.
Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.
Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.
Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.
Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).
Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.
Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.
Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.
Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)
Catatan:
- Lima Poin Pendidikan Anak: -1.Paradigma sukses-2.Mengenal Tahapan dan Sifat-3.Metode-4.Isi-5.Target.
- Buku Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) diterjemahkan dengan judul “Sistem Pendidikan Islam” terbitan Al-Ma’arif Bandung, dan buku Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam) diterjemahkan dengan judul Pendidikan Anak Dalam Islam.
© 2010 YPI Al-Fikri. All rights reserved.
Site developed by Fandy Ariawan
& Heaven PC Solution 2010
DEPAN | YPI AL-FIKRI | KB-TK | SD | SMP |ARSIP | KONTAK | LOGIN | ATAS ↑
Yayasan Pendidikan Islam Al-Fikri. Jl. WR. Supratman Kav. 31-32 - Semarang 50149. Telp: 024-7605327. Fax: 024-7600410. E-mail: humas@alfikri.com
StatCounter - Free Web Tracker and Counter
Minggu, 14 Agustus 2011
Bu, Tolong Jangan Katakan Itu!
Di suatu pagi saya mendengar ibu yang mengeluhkan pada tetangganya mengenai anaknya yang sangat susah sekali makan. Lalu dalam perbincangan tersebut sang ibu lainnya juga mengeluhkan anaknya yang kerap sangat doyan susu, sehingga satu hari bisa menghabiskan sekaleng susu dan ia pun mengeluhkan biaya yang dikeluarkan dalam sebulan untuk membeli susu. Ada pula yang tanpa sadar beberapa kali kedapatan menceritakan bahwa anaknya nakal, tak mau diatur, belum bisa ini, belum bisa itu. Hal ini terus berlangsung berulang-ulang.
Barangkali maksud sang ibu hanya sekedar sharing dan mencari solusi. Jika tujuannya mencari solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi bukankah sebaiknya berkonsultasi pada yang ahlinya.
Yang dikhawatirkan, hal ini malah membuat kita terjebak dengan ber-su'udzon pada sang buah hati. Sikap su'udzon itu jika terus dibiarkan bisa saja merambat menjadi su'udzon pada Sang Penciptanya. Bagaimana mungkin ibu menjadi seorang guru kehidupan bagi anaknya, jika sang guru sendiri tak percaya dengan kemampuan anaknya.
Ibu tersebut lupa bahwa setiap manusia yang diciptakan Allah Swt. adalah masterpiece. Setiap anak memiliki perbedaan dan keunikan satu sama lain bahkan anak kembar siam sekalipun. Ibu adalah madrasah bagi anaknya.
Allah Swt. menurunkan ayat-Nya bahwa manusia diciptakan dengan sebaik baiknya bentuk.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS At-Tin 95:4).
Manusia turun ke bumi manusia lebih mulia dari malaikat sekalipun.
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, 'Sesungguhnya, aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal ) dari lumpurhitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-KU, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr: 28- 29).
Manusia telah diangkat derajatnya oleh Allah, sampai seluruh malaikat pun diperintahkan untuk bersujud. Namun sayangnya ada manusia yang merendahkan derajatnya sendiri. Maka yang akan diangkat derajatnya adalah manusia yang bertaqwa.
Tentulah kita menginginkan anak kita memiliki derajat yang tinggi di mata Allah dan bertaqwa.
Fitrah manusia adalah belajar. Pernah kah kita memperhatikan bayi yang baru lahir, jangankan berjalan mengangkat kepala saja belum bisa. benar benar terkulai lemah. Lalu seminggu kemudian ia mulai bisa mengangkat kepalanya, kemudian ia belajar duduk, merangkak, merambat lalu berjalan hingga berlari.
Dalam ilmu komunikasi dikenal istilah Redudansi Komunikasi atau pengulangan dalam mengomunikasikan suatu pesan. Redudansi komunikasi memiliki kekuatan mempengaruhi alam bawah sadar manusia. Saat seorang ibu terus menceritakan kekurangan anaknya, dan saat itu pula anak tersebut mendengar.
Maka pesan - pesan yang ia dengar dari sang ibu bisa mempengaruhi alam bawah sadar sang anak. Perhatikan saja betapa mudahnya anak kita menghafal lagu- lagu yang setiap pagi kita putar atau jingle - jingle iklan di televisi . Otak anak bagaikan sponge yang dapat dengan mudah menyerap informasi apapun yang ia dengar, dan lihat.
“Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid,” (QS.Qaaf : 18)
Bangkitlah ibu, ikhlaslah menerima apapun kekurangan anak kita. Segeralah menegakkan kepala. Mari mengubah kekurangannya menjadi kelebihan. Menutupi kekurangannya dengan kelebihan. Tak ada manusia yang sempurna. Konsultasikan pada yang dianggap ahli, bukan malah mengumbar kekurangan anak kita.
Jadilah kamus berjalan bagi anak kita.
Jadilah psikolog langganan buah hati kita.
Jadilah motivator handal untuk anak kita.
Bantulah sang anak menjadi pribadi yang mulia di mata Allah Swt.
Bismillah semoga kita selalu diberikan kekuatan oleh Allah menjaga amanahnya. (Dari berbagai sumber)
Di suatu pagi saya mendengar ibu yang mengeluhkan pada tetangganya mengenai anaknya yang sangat susah sekali makan. Lalu dalam perbincangan tersebut sang ibu lainnya juga mengeluhkan anaknya yang kerap sangat doyan susu, sehingga satu hari bisa menghabiskan sekaleng susu dan ia pun mengeluhkan biaya yang dikeluarkan dalam sebulan untuk membeli susu. Ada pula yang tanpa sadar beberapa kali kedapatan menceritakan bahwa anaknya nakal, tak mau diatur, belum bisa ini, belum bisa itu. Hal ini terus berlangsung berulang-ulang.
Barangkali maksud sang ibu hanya sekedar sharing dan mencari solusi. Jika tujuannya mencari solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi bukankah sebaiknya berkonsultasi pada yang ahlinya.
Yang dikhawatirkan, hal ini malah membuat kita terjebak dengan ber-su'udzon pada sang buah hati. Sikap su'udzon itu jika terus dibiarkan bisa saja merambat menjadi su'udzon pada Sang Penciptanya. Bagaimana mungkin ibu menjadi seorang guru kehidupan bagi anaknya, jika sang guru sendiri tak percaya dengan kemampuan anaknya.
Ibu tersebut lupa bahwa setiap manusia yang diciptakan Allah Swt. adalah masterpiece. Setiap anak memiliki perbedaan dan keunikan satu sama lain bahkan anak kembar siam sekalipun. Ibu adalah madrasah bagi anaknya.
Allah Swt. menurunkan ayat-Nya bahwa manusia diciptakan dengan sebaik baiknya bentuk.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS At-Tin 95:4).
Manusia turun ke bumi manusia lebih mulia dari malaikat sekalipun.
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, 'Sesungguhnya, aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal ) dari lumpurhitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-KU, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr: 28- 29).
Manusia telah diangkat derajatnya oleh Allah, sampai seluruh malaikat pun diperintahkan untuk bersujud. Namun sayangnya ada manusia yang merendahkan derajatnya sendiri. Maka yang akan diangkat derajatnya adalah manusia yang bertaqwa.
Tentulah kita menginginkan anak kita memiliki derajat yang tinggi di mata Allah dan bertaqwa.
Fitrah manusia adalah belajar. Pernah kah kita memperhatikan bayi yang baru lahir, jangankan berjalan mengangkat kepala saja belum bisa. benar benar terkulai lemah. Lalu seminggu kemudian ia mulai bisa mengangkat kepalanya, kemudian ia belajar duduk, merangkak, merambat lalu berjalan hingga berlari.
Dalam ilmu komunikasi dikenal istilah Redudansi Komunikasi atau pengulangan dalam mengomunikasikan suatu pesan. Redudansi komunikasi memiliki kekuatan mempengaruhi alam bawah sadar manusia. Saat seorang ibu terus menceritakan kekurangan anaknya, dan saat itu pula anak tersebut mendengar.
Maka pesan - pesan yang ia dengar dari sang ibu bisa mempengaruhi alam bawah sadar sang anak. Perhatikan saja betapa mudahnya anak kita menghafal lagu- lagu yang setiap pagi kita putar atau jingle - jingle iklan di televisi . Otak anak bagaikan sponge yang dapat dengan mudah menyerap informasi apapun yang ia dengar, dan lihat.
“Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid,” (QS.Qaaf : 18)
Bangkitlah ibu, ikhlaslah menerima apapun kekurangan anak kita. Segeralah menegakkan kepala. Mari mengubah kekurangannya menjadi kelebihan. Menutupi kekurangannya dengan kelebihan. Tak ada manusia yang sempurna. Konsultasikan pada yang dianggap ahli, bukan malah mengumbar kekurangan anak kita.
Jadilah kamus berjalan bagi anak kita.
Jadilah psikolog langganan buah hati kita.
Jadilah motivator handal untuk anak kita.
Bantulah sang anak menjadi pribadi yang mulia di mata Allah Swt.
Bismillah semoga kita selalu diberikan kekuatan oleh Allah menjaga amanahnya. (Dari berbagai sumber)
Terbelenggu Pikiran Buruk
Terbelenggu dunia memang melelahkan. Tetapi, terbelenggu pikiran buruk sendiri juga melelahkan sekaligus menyesakkan. Sungguh menyiksa. Seperti hidup memakan kotoran sendiri. Pantaslah tubuh dan hati tak sehat. Begitu lemah dan tak banyak bergerak.
Ketika berfikir buruk tentang diri sendiri, maka hanya pesimis dan rendah diri yang terjadi. Merasa tak ada kesempatan dan jalan di setiap masalah. Putus asa.
"Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir". (Q.S. Yusuf : 87).
Aku tersentak dengan ayat Allah ini. Membuatku berusaha membuang segala putus asa dari kemurahan dan kebaikan Allah.
Sesaat.
Kemudian aku berfikir buruk tentang yang lain. Tentang orang lain. Bahwa mereka bersikap sengaja menyakitiku. Merendahkan aku. Atau berfikir mereka membanciku. Marah padaku dengan sifatku.
Duhai, banyak lah pikiran buruk itu bermunculan. Seperti rumput di musim hujan. Hampir tak terkendali tumbuhnya. Membuat pikiranku yang sempit ini sesak oleh pemikiran yang buruk dan berlebihan.
Lalu pikiran buruk terhadap rencana dan kehendak Allah padaku. Merasa begitu berat dengan keadaan yang terjadi padaku. Merasa rencana Allah bukan terbaik untukku. Padahal aku tahu, Allah sesuai prasangaka hambaNya.
Aku pun mencoba berprasangka baik kepada Allah. bahwa semua masalah ini membawa hikmah. Namun, pikiran yang terlanjur kotor ini tak mampu menolak pikiran buruk yang baru.
Bahwa aku tak disayang Allah, sehingga aku mendapat masalah ini dan itu. Aku tak pantas disayang karena terlalu hina dan lemah iman. Aku kembali berputus asa dari rahmat Allah...
Bahkan, aku melakukan perbuatan setan dengan pikiranku. Yaitu membanding-bandingkan. Antara diriku dan orang lain. Membandingkan tubuh, rezeki dan kemampuan diri dengan orang lain.
Kenapa mereka lebih baik dariku. Mengapa aku yang kekurangan. Dan pertanyaan tak terima yang lain. Sungguh sangat menyiksa diri, hati dan pikiran. Tak ada manfaat. Malah mendatangkan rendah diri dan kufur nikmat.
Belum lagi ketika aku bersama orang yang lebih rendah ibadahnya. Aku akan berfikir aku lebih baik dari dia. Aku sholat, sedang dia tidak. Aku puasa dan dia sama sekali tidak. Aku tak berghibah sedang dia berghibah. Aku bisa membaca Al-Quran dan dia tidak. Dan masih banyak lagi perbandingan yang membuat aku merasa lebih dari orang lain.
Pikiran buruk itu telah menjadi pohon rimbun di pikiranku. Sulit tercabut. Kalau pun aku sadar, aku hanya menebang ranting-rantingnya saja. Tak sanggup menebang batang yang besar. Apalagi hingga ke akarnya. Jika pun sanggup. Aku sendiri pula yang menebar bibit pikiran buruk pada tanah fikirku. Sehingga tersemai kembali pikiran negatif ku tentang diriku, orang lain dan Allah.
Tanpa kusadari, pikiran buruk itu berbuah penyakit hati. Ya, berbagai macam penyakit hati. Keluh kesah, putus asa, kufur nikmat, iri, sombong, dan ujub. Aku bahkan tak merasakannya. Tak tahu telah parah penyakit hatiku. Setiap hari, aku memetik buah itu. Menikmatinya. Seakan tak berdosa dengan kelakuan diri.
Padahal sungguh Allah maha halus terhadap apa yang kita pikirkan dan kita rasakan, "Sesungguhnya Allah Maha halus Maha teliti". (Luqman : 16).
Meskipun hanya selintas saja. Hanya sekejap saja. Ketika aku berfikir aku lebih menjaga hijab dari saudara wanitaku, ujubku kambuh. Ketika aku berfikir wanita itu sungguh sempurna tubuhnya, tanpa sadar aku telah iri.
Ketika aku merasa lebih baik begini tanpa merubah keadaan diri yang buruk, aku sedang putus asa. Juga pikiran-pikiran lain yang membuahkan sombong, egois dan keluh kesah.
Maka aku harus bunuh pohon besar pikiran buruk yang ada di diriku. Sebelum pikiran buruk menghancurkan aku tanpa ampun. Membuatku menyesal kelak di hari perhitungan. Aku harus memotong ranting-rantingnya setiap hari, sampai ia gersang. Mematahkan setiap ada yang mulai tumbuh kembali.
Membuang ranting-ranting pikiran buruk sejauh-jauhnya. Kemudian meracuni pohon pikiran buruk dengan keyakinan kepada Allah, ikhlas, syukur, ilmu dan ibadah. Tentulah dibarengi dengan doa. Memohon pertolongan Allah. Percaya bahwa pertolongan Allah akan datang kepadaku.
"Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat". (Al-Baqarah : 214).
Semoga waktu ini, Ramadhan nan mulia, aku bisa menebang habis pohon pikiran buruk. Mencabut hingga ke akar-akarnya.
Kemudian secepatnya menanam pikiran positif dan semangat ibadah serta beramal di tanah pikiran. Agar aku terbebas dari pikiran buruk. Tak lagi terbelenggu pikiran buruk ku.
Yogyakarta
14 Agustus 2011
Terbelenggu dunia memang melelahkan. Tetapi, terbelenggu pikiran buruk sendiri juga melelahkan sekaligus menyesakkan. Sungguh menyiksa. Seperti hidup memakan kotoran sendiri. Pantaslah tubuh dan hati tak sehat. Begitu lemah dan tak banyak bergerak.
Ketika berfikir buruk tentang diri sendiri, maka hanya pesimis dan rendah diri yang terjadi. Merasa tak ada kesempatan dan jalan di setiap masalah. Putus asa.
"Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir". (Q.S. Yusuf : 87).
Aku tersentak dengan ayat Allah ini. Membuatku berusaha membuang segala putus asa dari kemurahan dan kebaikan Allah.
Sesaat.
Kemudian aku berfikir buruk tentang yang lain. Tentang orang lain. Bahwa mereka bersikap sengaja menyakitiku. Merendahkan aku. Atau berfikir mereka membanciku. Marah padaku dengan sifatku.
Duhai, banyak lah pikiran buruk itu bermunculan. Seperti rumput di musim hujan. Hampir tak terkendali tumbuhnya. Membuat pikiranku yang sempit ini sesak oleh pemikiran yang buruk dan berlebihan.
Lalu pikiran buruk terhadap rencana dan kehendak Allah padaku. Merasa begitu berat dengan keadaan yang terjadi padaku. Merasa rencana Allah bukan terbaik untukku. Padahal aku tahu, Allah sesuai prasangaka hambaNya.
Aku pun mencoba berprasangka baik kepada Allah. bahwa semua masalah ini membawa hikmah. Namun, pikiran yang terlanjur kotor ini tak mampu menolak pikiran buruk yang baru.
Bahwa aku tak disayang Allah, sehingga aku mendapat masalah ini dan itu. Aku tak pantas disayang karena terlalu hina dan lemah iman. Aku kembali berputus asa dari rahmat Allah...
Bahkan, aku melakukan perbuatan setan dengan pikiranku. Yaitu membanding-bandingkan. Antara diriku dan orang lain. Membandingkan tubuh, rezeki dan kemampuan diri dengan orang lain.
Kenapa mereka lebih baik dariku. Mengapa aku yang kekurangan. Dan pertanyaan tak terima yang lain. Sungguh sangat menyiksa diri, hati dan pikiran. Tak ada manfaat. Malah mendatangkan rendah diri dan kufur nikmat.
Belum lagi ketika aku bersama orang yang lebih rendah ibadahnya. Aku akan berfikir aku lebih baik dari dia. Aku sholat, sedang dia tidak. Aku puasa dan dia sama sekali tidak. Aku tak berghibah sedang dia berghibah. Aku bisa membaca Al-Quran dan dia tidak. Dan masih banyak lagi perbandingan yang membuat aku merasa lebih dari orang lain.
Pikiran buruk itu telah menjadi pohon rimbun di pikiranku. Sulit tercabut. Kalau pun aku sadar, aku hanya menebang ranting-rantingnya saja. Tak sanggup menebang batang yang besar. Apalagi hingga ke akarnya. Jika pun sanggup. Aku sendiri pula yang menebar bibit pikiran buruk pada tanah fikirku. Sehingga tersemai kembali pikiran negatif ku tentang diriku, orang lain dan Allah.
Tanpa kusadari, pikiran buruk itu berbuah penyakit hati. Ya, berbagai macam penyakit hati. Keluh kesah, putus asa, kufur nikmat, iri, sombong, dan ujub. Aku bahkan tak merasakannya. Tak tahu telah parah penyakit hatiku. Setiap hari, aku memetik buah itu. Menikmatinya. Seakan tak berdosa dengan kelakuan diri.
Padahal sungguh Allah maha halus terhadap apa yang kita pikirkan dan kita rasakan, "Sesungguhnya Allah Maha halus Maha teliti". (Luqman : 16).
Meskipun hanya selintas saja. Hanya sekejap saja. Ketika aku berfikir aku lebih menjaga hijab dari saudara wanitaku, ujubku kambuh. Ketika aku berfikir wanita itu sungguh sempurna tubuhnya, tanpa sadar aku telah iri.
Ketika aku merasa lebih baik begini tanpa merubah keadaan diri yang buruk, aku sedang putus asa. Juga pikiran-pikiran lain yang membuahkan sombong, egois dan keluh kesah.
Maka aku harus bunuh pohon besar pikiran buruk yang ada di diriku. Sebelum pikiran buruk menghancurkan aku tanpa ampun. Membuatku menyesal kelak di hari perhitungan. Aku harus memotong ranting-rantingnya setiap hari, sampai ia gersang. Mematahkan setiap ada yang mulai tumbuh kembali.
Membuang ranting-ranting pikiran buruk sejauh-jauhnya. Kemudian meracuni pohon pikiran buruk dengan keyakinan kepada Allah, ikhlas, syukur, ilmu dan ibadah. Tentulah dibarengi dengan doa. Memohon pertolongan Allah. Percaya bahwa pertolongan Allah akan datang kepadaku.
"Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat". (Al-Baqarah : 214).
Semoga waktu ini, Ramadhan nan mulia, aku bisa menebang habis pohon pikiran buruk. Mencabut hingga ke akar-akarnya.
Kemudian secepatnya menanam pikiran positif dan semangat ibadah serta beramal di tanah pikiran. Agar aku terbebas dari pikiran buruk. Tak lagi terbelenggu pikiran buruk ku.
Yogyakarta
14 Agustus 2011
Puasa Menuju Jiwa yang Tenang
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu” (QS. Al-Fajr [89] : 27-30)
Saudaraku seiman, sungguh tiada sia-sia apapun yang Allah perintahkan pada kita. Ibadah yang kadang kita merasa berat menjalankannya, sesunguhnya itu amat baik bagi kita, dari sudut pandang apapun termasuk kesehatan.
Sebut saja senyum, terbukti ketika kita senyum hormon endorpin akan meningkat, kondisi ini menyebabkan detak jantung dan tensi akan menurun (normal). Jika senyum menjadi kebiasaan, maka insyaAllah kita akan terhindar dari hipertensi, jantung dan stroke.
Saudaraku itu baru senyum, ibadah paling murah dan mudah.
Bagaimana dengan wudhu, sholat, puasa, sedekah, haji. Masya Allah, sungguh ada banyak hikmah kesehatan di dalamnya.
Tak heran ketika zaman terbaik sepanjang zaman, ketika Rosul saw dan para sahabat menjalankan hidup dengan penuh ibadah, ketika Islam dijalankan dengan kaffah, tak terbantahkan oleh ahli sejarah manapun bahwa mereka memiliki kesehatan yang sangat prima. Sepanjang hidupnya, Rosulullah saw terhitung hanya 1 kali sakit yaitu saat menjelang wafatnya. Rosul saw dan sahabat mampu mengalahkan musuh dalam banyak peperangan walau dalam jumlah yang sangat tak berimbang. Bukti lain, seorang thabib dari Mesir harus kembali pulang karena tidak ada ‘pasien’.
Saat ini?
Tak terhitung sepanjang kita hidup sudah berapa kali kita sakit. Adakah yang salah dengan ibadah kita?
Varian penyakitpun semakin bertambah banyak. Adakah yang salah dengan pola hidup kita?
Salah satu varian yang menghantui masyarakat kita adalah stress/depresi.
Depresi, saat ini telah dan akan menjadi problem kesehatan masyarakat yang cukup serius. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan ke-4 penyakit di dunia penyebab ketidakmampuan. Bahkan, diramalkan pada tahun 2020, depresi akan menempati urutan ke-2 penyebab ketidakmampuan.
Menurut survei yang dilakukan oleh Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) pada tahun 2008, menyebutkan “Sekitar 94% masyarakat Indonesia mengidap depresi dari mulai tingkat paling ringan hingga paling berat”.
Jika angka ini benar, maka 9 dari 10 orang masyarakat kita mengalami depresi.
Teori tentang penyebab depresi beragam, diantaranya faktor genetik, faktor psikososial (jalan macet, permasalahan keluarga, tuntutan kerja, dll), faktor kepribadian (cinta dunia yang berlebihan dan manajemen penyelesaian masalah yang kurang pandai), dan faktor biogenikamin (serotonin dianggap sebagai neurotransmiter yang paling bertanggung jawab masalah depresi).
Dari segi medis, teori biogenikamin inilah yang membuktikan bahwa puasa mampu membuat jiwa kita tenang. Karena dengan puasa terjadi peningkatan serotonin dalam tubuh yang cukup signifikan, menjadikan kita lebih tenang, lebih ‘mood’ dan mampu menekan jika stimulan depresi datang.
Selain itu, di dalam otak kita, ada sel yang disebut dengan “neuroglial cells”. Fungsinya adalah sebagai pembersih dan penyehat otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit, akan “dimakan” oleh sel-sel neuroglial ini. Kondisi ini menyebabkan orang yang berpuasa memiliki ketajaman berfikir yang jernih sehingga mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya dan jauh dari depresi.
Seorang peneliti di Moskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental (termasuk depresi berat). Ternyata dengan puasa, sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental pasiennya.
Seorang ilmuwan di bidang kejiwaan Dr. Ehret menyatakan bahwa “Untuk hasil yang lebih dari sekedar manfaat fisik, yaitu agar mendapatkan manfaat mental dari aktifitas berpuasa, seseorang harus menjalani puasa lebih dari 21 hari”.
Teori-teori ini menjadi dasar beberapa praktisi kesehatan menggunakan puasa sebagai terapi pengobatan bagi pasien-pasien mereka.
Saudaraku, Tambahlah keyakinan kita, begitu sayangnya Allah kepada kita melalui ibadah yang Ia perintahkan kepada kita.
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)
Barulah kita sadar bahwa ibadah adalah kebutuhan.
Allahu ‘alam bishshowab.
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu” (QS. Al-Fajr [89] : 27-30)
Saudaraku seiman, sungguh tiada sia-sia apapun yang Allah perintahkan pada kita. Ibadah yang kadang kita merasa berat menjalankannya, sesunguhnya itu amat baik bagi kita, dari sudut pandang apapun termasuk kesehatan.
Sebut saja senyum, terbukti ketika kita senyum hormon endorpin akan meningkat, kondisi ini menyebabkan detak jantung dan tensi akan menurun (normal). Jika senyum menjadi kebiasaan, maka insyaAllah kita akan terhindar dari hipertensi, jantung dan stroke.
Saudaraku itu baru senyum, ibadah paling murah dan mudah.
Bagaimana dengan wudhu, sholat, puasa, sedekah, haji. Masya Allah, sungguh ada banyak hikmah kesehatan di dalamnya.
Tak heran ketika zaman terbaik sepanjang zaman, ketika Rosul saw dan para sahabat menjalankan hidup dengan penuh ibadah, ketika Islam dijalankan dengan kaffah, tak terbantahkan oleh ahli sejarah manapun bahwa mereka memiliki kesehatan yang sangat prima. Sepanjang hidupnya, Rosulullah saw terhitung hanya 1 kali sakit yaitu saat menjelang wafatnya. Rosul saw dan sahabat mampu mengalahkan musuh dalam banyak peperangan walau dalam jumlah yang sangat tak berimbang. Bukti lain, seorang thabib dari Mesir harus kembali pulang karena tidak ada ‘pasien’.
Saat ini?
Tak terhitung sepanjang kita hidup sudah berapa kali kita sakit. Adakah yang salah dengan ibadah kita?
Varian penyakitpun semakin bertambah banyak. Adakah yang salah dengan pola hidup kita?
Salah satu varian yang menghantui masyarakat kita adalah stress/depresi.
Depresi, saat ini telah dan akan menjadi problem kesehatan masyarakat yang cukup serius. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan ke-4 penyakit di dunia penyebab ketidakmampuan. Bahkan, diramalkan pada tahun 2020, depresi akan menempati urutan ke-2 penyebab ketidakmampuan.
Menurut survei yang dilakukan oleh Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) pada tahun 2008, menyebutkan “Sekitar 94% masyarakat Indonesia mengidap depresi dari mulai tingkat paling ringan hingga paling berat”.
Jika angka ini benar, maka 9 dari 10 orang masyarakat kita mengalami depresi.
Teori tentang penyebab depresi beragam, diantaranya faktor genetik, faktor psikososial (jalan macet, permasalahan keluarga, tuntutan kerja, dll), faktor kepribadian (cinta dunia yang berlebihan dan manajemen penyelesaian masalah yang kurang pandai), dan faktor biogenikamin (serotonin dianggap sebagai neurotransmiter yang paling bertanggung jawab masalah depresi).
Dari segi medis, teori biogenikamin inilah yang membuktikan bahwa puasa mampu membuat jiwa kita tenang. Karena dengan puasa terjadi peningkatan serotonin dalam tubuh yang cukup signifikan, menjadikan kita lebih tenang, lebih ‘mood’ dan mampu menekan jika stimulan depresi datang.
Selain itu, di dalam otak kita, ada sel yang disebut dengan “neuroglial cells”. Fungsinya adalah sebagai pembersih dan penyehat otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit, akan “dimakan” oleh sel-sel neuroglial ini. Kondisi ini menyebabkan orang yang berpuasa memiliki ketajaman berfikir yang jernih sehingga mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya dan jauh dari depresi.
Seorang peneliti di Moskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental (termasuk depresi berat). Ternyata dengan puasa, sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental pasiennya.
Seorang ilmuwan di bidang kejiwaan Dr. Ehret menyatakan bahwa “Untuk hasil yang lebih dari sekedar manfaat fisik, yaitu agar mendapatkan manfaat mental dari aktifitas berpuasa, seseorang harus menjalani puasa lebih dari 21 hari”.
Teori-teori ini menjadi dasar beberapa praktisi kesehatan menggunakan puasa sebagai terapi pengobatan bagi pasien-pasien mereka.
Saudaraku, Tambahlah keyakinan kita, begitu sayangnya Allah kepada kita melalui ibadah yang Ia perintahkan kepada kita.
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)
Barulah kita sadar bahwa ibadah adalah kebutuhan.
Allahu ‘alam bishshowab.
Selasa, 09 Agustus 2011
Senyum Dulu Yah...
Kalo binatang punya facebook kira2 statusnya kaya gini kali ya
Anjing pudel : Nunggu di jemput chayangku mo ke salon neeh.
Kecoa : Baru aja selamet dri injekan maut.
Sapi : HuH sbel susuku di raba2 lg oleh majikanku, dikiranya gw jablay apa, damn!
Kucing : Anak gw yg ke7 barusan nanya sapa bapaknya, gw bingung mw jwb apa, gw sendiri lupa bpknya siapa
Nyamuk : Gw positif HIV AIDS, gra2 salah isep, hiks.
Ayam : Teman2 klo bsk gw ga update brati gw di goreng, luv u all.
CumiCumi : Abis isi ulang tinta neeh.
Babi : Gw difitnah nyebarin flu, sialan.
Kambing : Jgn kluar rumah friends bentar lg idul adha.
Giliran kutu : salah masuk ni kok bau pesing ya
GA USAH PUSING MA KENALAN MASING-MASING BU GURU!
Bu guru: “Andi..! coba kamu jawab, siapa itu Thomas Alfa Edison..?”
Andi: “Tidak tau bu guru…”.
Bu guru: “Kalo James Watt, siapa dia..?”
Andi: “Ndak tau juga bu guru..”
Bu guru: “Andi! Bagaimana sih kamu ini? ditanya ini itu pasti jawab tidak tau… Tidak pernah belajar ya?”
Andi: “Belajar kok bu guru… Lah coba Andi tanya, bu guru tau ndak siapa Arifin Widodo..?”
Bu guru: “Tidak tau…”
Andi: “Kalau Bambang Setiono Ibu tau?”
Bu guru: “Tidak tau… Emang siapa mereka itu..?”
Andi: “Yaa itulah Bu…, kita khan pasti punya kenalan sendiri-sendiri..”
ULAH BIARAWAN....
Empat orang biarawan diijinkan untuk pergi bermalam minggu oleh Pastur, namun harus melaporkan hal apa saja yang telah mereka lakukan. Keesokannya ….
Biarawan I: Pastur semalam saya telah berdosa karena menonton film, yang tidak sepantasnya di tonton
Pastur: Dosamu telah diampuni, karena kamu telah mengaku, Sekarang pergi dan minumlah air suci
Biarawan IV, yang berada urutan paling belakang tersenyum kecil.
Biarawan II: Pastur, semalam saya berdosa karena saya tidak hati-hati mengendarai motor shg menabrak seekor anjing dan membunuhnya
Pastur: Dosamu telah diampuni, karena kamu telah mengaku, Sekarang pergi dan minumlah air suci
Biarawan IV, kembali tersenyum, diikuti dengan tertawa “he..he..he…”
Biarawan III: Pastur semalam saya berdosa karena, tidak sengaja melihat tetangga saya sedang mandi
Pastur: Dosamu telah diampuni, karena kamu telah mengaku, Sekarang pergi dan minumlah air suci
Biarawan IV tidak tahan lagi tertawa makin keras “Hua…ha…ha….”
Pastur: Mengapa kamu tertawa seperti itu, Apa yang kamu lakukan semalam ?
Biarawan IV: ” Saya buang air kecil di tempat air suci, pastur”
4 MAHASISWA BIKIN ULA LAGI BRO...
Ada 4 orang mahasiswa yang kebetulan telat ikut ujian semester karena bangun kesiangan.
Mereka lantas menyusun strategi untuk kompak kasih alasan yang sama agar dosen mereka berbaik hati memberi ujian susulan.
Mahasiswa A: pak, maaf kami telat ikut ujian semester
mahasiswa B: iya pak. Kami berempat naik angkot yg sama dan ban angkotnya meletus.
Mahasiswa C: iya kami kasihan sama supirnya. Jadinya kami bantu dia pasang ban baru.
mahasiswa D: oleh karena itu kami mohon kebaikan hati bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.
Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan mereka ikut ujian susulan.
Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yg berbeda. “Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa. Ternyata ujiannya cuma ada 2 soal. Dengan ketentuan mereka baru diperbolehkan melihat dan mengerjakan soal kedua setelah selesai mengerjakan soal pertama.
Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat mahasiswa mengerjakan dengan senyum senyum.
Giliran membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin pun mulai bercucuran.
Di soal kedua tertulis:
“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?”
Kisah ttg Baru Punya Handphone.
Ucup : "Cep ngapain lho megangin pager rumah?"
Acep : "Ini Cup, gw lagi mau isi pulsa..."
Ucup : "Eh, ape hubunganye nempel di pager ama isi pulsa Cep? Telpon operator aje. Susah amat sih."
Acep : "Itu die masalahnye,dari tadi gue disuruh operator tekan pager, nah gue sudah tekan pager berkali-kali kok kagak bisa juga. Ampe bonyok neh jempol gue."
Ucup : "wahh.. Mendingan elo dong cep.. Gue lebih parah coy."
Acep : "Emang elu kenape?"
Ucup : "Gue malah disuruh mencet bintang." :):):)
Anjing pudel : Nunggu di jemput chayangku mo ke salon neeh.
Kecoa : Baru aja selamet dri injekan maut.
Sapi : HuH sbel susuku di raba2 lg oleh majikanku, dikiranya gw jablay apa, damn!
Kucing : Anak gw yg ke7 barusan nanya sapa bapaknya, gw bingung mw jwb apa, gw sendiri lupa bpknya siapa
Nyamuk : Gw positif HIV AIDS, gra2 salah isep, hiks.
Ayam : Teman2 klo bsk gw ga update brati gw di goreng, luv u all.
CumiCumi : Abis isi ulang tinta neeh.
Babi : Gw difitnah nyebarin flu, sialan.
Kambing : Jgn kluar rumah friends bentar lg idul adha.
Giliran kutu : salah masuk ni kok bau pesing ya
GA USAH PUSING MA KENALAN MASING-MASING BU GURU!
Bu guru: “Andi..! coba kamu jawab, siapa itu Thomas Alfa Edison..?”
Andi: “Tidak tau bu guru…”.
Bu guru: “Kalo James Watt, siapa dia..?”
Andi: “Ndak tau juga bu guru..”
Bu guru: “Andi! Bagaimana sih kamu ini? ditanya ini itu pasti jawab tidak tau… Tidak pernah belajar ya?”
Andi: “Belajar kok bu guru… Lah coba Andi tanya, bu guru tau ndak siapa Arifin Widodo..?”
Bu guru: “Tidak tau…”
Andi: “Kalau Bambang Setiono Ibu tau?”
Bu guru: “Tidak tau… Emang siapa mereka itu..?”
Andi: “Yaa itulah Bu…, kita khan pasti punya kenalan sendiri-sendiri..”
ULAH BIARAWAN....
Empat orang biarawan diijinkan untuk pergi bermalam minggu oleh Pastur, namun harus melaporkan hal apa saja yang telah mereka lakukan. Keesokannya ….
Biarawan I: Pastur semalam saya telah berdosa karena menonton film, yang tidak sepantasnya di tonton
Pastur: Dosamu telah diampuni, karena kamu telah mengaku, Sekarang pergi dan minumlah air suci
Biarawan IV, yang berada urutan paling belakang tersenyum kecil.
Biarawan II: Pastur, semalam saya berdosa karena saya tidak hati-hati mengendarai motor shg menabrak seekor anjing dan membunuhnya
Pastur: Dosamu telah diampuni, karena kamu telah mengaku, Sekarang pergi dan minumlah air suci
Biarawan IV, kembali tersenyum, diikuti dengan tertawa “he..he..he…”
Biarawan III: Pastur semalam saya berdosa karena, tidak sengaja melihat tetangga saya sedang mandi
Pastur: Dosamu telah diampuni, karena kamu telah mengaku, Sekarang pergi dan minumlah air suci
Biarawan IV tidak tahan lagi tertawa makin keras “Hua…ha…ha….”
Pastur: Mengapa kamu tertawa seperti itu, Apa yang kamu lakukan semalam ?
Biarawan IV: ” Saya buang air kecil di tempat air suci, pastur”
4 MAHASISWA BIKIN ULA LAGI BRO...
Ada 4 orang mahasiswa yang kebetulan telat ikut ujian semester karena bangun kesiangan.
Mereka lantas menyusun strategi untuk kompak kasih alasan yang sama agar dosen mereka berbaik hati memberi ujian susulan.
Mahasiswa A: pak, maaf kami telat ikut ujian semester
mahasiswa B: iya pak. Kami berempat naik angkot yg sama dan ban angkotnya meletus.
Mahasiswa C: iya kami kasihan sama supirnya. Jadinya kami bantu dia pasang ban baru.
mahasiswa D: oleh karena itu kami mohon kebaikan hati bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.
Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan mereka ikut ujian susulan.
Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yg berbeda. “Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa. Ternyata ujiannya cuma ada 2 soal. Dengan ketentuan mereka baru diperbolehkan melihat dan mengerjakan soal kedua setelah selesai mengerjakan soal pertama.
Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat mahasiswa mengerjakan dengan senyum senyum.
Giliran membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin pun mulai bercucuran.
Di soal kedua tertulis:
“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?”
Kisah ttg Baru Punya Handphone.
Ucup : "Cep ngapain lho megangin pager rumah?"
Acep : "Ini Cup, gw lagi mau isi pulsa..."
Ucup : "Eh, ape hubunganye nempel di pager ama isi pulsa Cep? Telpon operator aje. Susah amat sih."
Acep : "Itu die masalahnye,dari tadi gue disuruh operator tekan pager, nah gue sudah tekan pager berkali-kali kok kagak bisa juga. Ampe bonyok neh jempol gue."
Ucup : "wahh.. Mendingan elo dong cep.. Gue lebih parah coy."
Acep : "Emang elu kenape?"
Ucup : "Gue malah disuruh mencet bintang." :):):)
Minggu, 07 Agustus 2011
Kefakiran dekat dengan Kekufuran, Kekayaan dekat dengan Kesombongan
Darsem, TKI Indonesia yang terancam menjadi korban pancungan kedua setelah almarhumah Ruyati oleh pemerintah Arab Saudi karena didakwa membunuh majikannya. Pemerintah Indonesia berusaha sekuat tenaga untuk dapat membebaskan Darsem dari hukuman tersebut karena tidak ingin kasus serupa terulang kembali , sehingga pemerintah kehilangan wibawanya. Di saat yang sama, TV-One mengadakan penggalangan dana dan terkumpul 1,2 M untuk menebus Darsem. Ternyata pemerintah Indonesia lebih dahulu menebus Darsem. TV-One pun menyerahkan dana tersebut ke Darsem, dan mendadak jadi OKB. Dia langsung beli Rumah, mobil dan perhiasan. Tetangganya menjuluki toko emas berjalan, karena semua perhiasan dipakai. Namun ada perubahan pada diri Darsem, dia menjadi terkesan sombong dan angkuh, begitu kata tetangganya. Terlihat juga ketika diwawancarai TV-One. Ketika ditanya, apa yang akan Anda lakukan dengan uang itu? Dijawab, buat beli rumah, lihat tuh rumahnya. Kepada pendahulunya yang nasibnya kurang mujur, Ruyati, ia berikan uang Rp. 20 jt kepada keluarganya. Ada yang berkomentar, dikit amat. Donatur Darsem mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan yang diambil TV-One untuk memberikan langsung pada Darsem, dan dia merasa sia-sia sudah membantu Darsem, padahal uang tersebut bisa saja dipakai untuk membantu TKI lain yang bermasalah, dan Darsem diberikan seperlunya. Berkaitan dengan ini, Pemerintah merasa tidak tahu menahu urusan itu, karena memang TV-One tidak berkoordinasi terlebih dahulu dan itu adalah hak TV-One sendiri. Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kemiskinan cenderung menggiring orang menjadi kufur, sebaliknya kekayaan cenderung menggiring orang menjadi takabbur, lantas gimana? Mau miskin atau kaya, kalau iman dan takwanya mantap, no problemo, miskin ya sabar, kaya ya syukur bukan sebaliknya, kalau disuruh pilih ya lebih baik kaya dan bersyukur karena dapat membantu banyak orang ketimbang sabar dalam kemiskinan hanya untuk diri sendiri. Ngono toh! Watch This!
Puasa dan Perkembangan Ruhani
Puasa bukan saja ada dalam agama Islam, tetapi juga di dalam agama Yahudi, Nasrani, bahkan agama-agama lainnya. Saya percaya bahwa semua agama itu pada dasarnya agama langit. Agama terbagi dua : agama Samawi dan agama Thabi’i. Agama Samawi adalah agama yang turun dari langit, misalnya agama Islam, Nasrani dan Yahudi. Sedangkan agama Thabi’i adalah agama yang lahir secara alamiah. Contohnya agama Hindu, Budha, Shinto dan Konghucu. Menurut saya semua agama pada awalnya adalah agama samawi. Seluruh agama pada permulaannya datang dari Allah tetapi dalam perkembangannya terjadilah perubahan yang merupakan campur tangan manusia.
Karena seluruh agama pada awalnya adalah agama Samawi, tidak heran kalau seluruh agama mensyariatkan puasa. Apapun bentuknya. Bahkan pada masyarakat yang tidak mengenal agama, seperti pada bangsa-bangsa primitif, kita temukan adanya kebiasaan berpuasa.
Mengapa puasa disyariatkan oleh Allah SWT pada seluruh agama ?
Pertama, puasa adalah alat untuk mendekatkan diri menuju Allah. Karena alasan inilah, kita menemukan puasa terdapat pada seluruh agama di dunia ini.
Kedua, agama dapat memenuhi kebutuhan spiritual kita. Jika anda seorang Antropolog, anda tahu bahwa banyak lembaga-lembaga sosial dibentuk untuk memenuhi kebutuhan manusia. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia akan pemuas seksual, masyarakat membentuk lembaga pernikahan. Untuk memenuhi ambisi akan kekuasaan, masyarakat menciptakan sistem politik. Untuk memenuhi kebutuhan ruhaniah manusia di masyarakat, lahirlah agama. Agama adalah institusi kebutuhan ruhaniah.
Secara filosofis kita percaya bahwa yang membedakan kita dari mahluk-mahluk yang lain adalah ruh. Sebagian orang menyatakan bahwa hakikat kemanusiaan seseorang terletak di dalam ruhnya. Ada suatu penelitian tentang puasa di barat. Penelitian itu mengamati sekelompok orang yang berpuasa. Setelah beberapa hari puasa, terjadi sesuatu yang aneh. Pikiran mereka menjadi filosofis. Mereka menjadi bisa berfilsafat. Seperti filusuf, orang yang puasa mulai berpikir yang abstrak. Pikiran mereka tidak terbatas pada hal-hal yang kongkrit lagi.
Dalam psikologi perkembangan (development psychology), kita ketahui dalam perkembangan kepribadiannya, manusia mengubah-ubah kebutuhannya. Dengan kata lain, kenikmatan manusia berganti-ganti sesuai dengan perkembangan kepribadiannya. Pada tingkat yang masih awal sekali dalam perkembangan kepribadian, kebutuhan manusia itu hanya berkaitan dengan hal-hal yang kongkrit atau hal-hal yang berwujud dan kelihatan. Pada tingkat ini, kebutuhan itu memerlukan pemuasan yang segera (immediate gratification).
Teori Freud
Sigmund Freud bercerita tentang kesenangan anak-anak di masa kecil mereka. Menurutnya ada tiga tahap perkembangan kenikmatan anak-anak itu. Semua tahap ini memiliki persamaan. Semuanya bersifat kongkrit, bisa dilihat dan sifat pemenuhannya yang sesegera mungkin.
Kalau orang itu lapar, ia makan. Ia segera memuaskan kebutuhannya dengan kesenangan pada makan dan minum. Menurut Freud, letak kenikmatan pada periode paling awal dalam perkembangan kepribadian anak adalah mulutnya. Ia menyebutnya Periode Oral. Anak-anak menemukan kenikmatan ketika memasukkan sesuatu ke mulutnya. Kesenangan ini diperolehnya dalam pengalaman pertama menyusu pada ibunya. Lalu ia belajar memasukkan apa saja ke dalam mulutnya. Pada periode oral ini, jika anak-anak diperintahkan untuk berjalan, dia akan berusaha untuk mengambil sesuatu dan memasukannya ke dalam mulut. Bila tida ada sesuatu yang bisa diraih atau diletakkan ke dalam mulutnya, dia akan memasukkan tangannya sendiri.
Pada perkembangan selanjutnya, kenikmatan tidak hanya terletak pada mulut. Dia mendapatkan kenikmatan ketika mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. Seperti ketika dia buang air besar atau buang air kecil. Masa itu disebut Periode Anal. Pada periode ini, seorang anak bisa berlama-lama di atas toilet. Dia senang melihat tumpukan kotorannya dan kadang-kadang ia mempermainkannya.
Sesudah itu, kepribadian anak berkembang lagi. Kini kenikmatannya bergeser. Dia memasuki satu periode yang akan mempersiapkan dirinya untuk menjadi orang yang lebih dewasa. Periode ini dinamakan Periode Genital. Dia senang mempermainkan alat kelaminnya dan memperlihatkannya pada orang tuanya.
Kalau teori Freud benar, maka seluruh kebutuhan pada masa kanak-kanak itu bersifat fisik. Tidak ada kebutuhan ruhaniah sedikitpun.
Kebutuhan kita ini berkembang. Semakin dewasa, semakin abstraklah kebutuhan kita. Pada orang-orang tertentu, kepribadiannya itu terhambat dan tidak bisa berkembang. Hambatan kepribadian itu disebut fiksasi. Misalnya, ada orang yang terhambat pada pemenuhan kebutuhan oral saja. Walaupun sudah dewasa, dia hanya memperoleh kenikmatan pada makan dan minum saja. Perbedaannya, dia mengubah makan dan minum itu dalam bentuk simbol, misalnya dalam bentuk pemilikan kekayaan.
Saya pernah diwawancarai sebuah radio di Jakarta. Saya ditanya tentang relevansi puasa dalam kehidupan modern. Saya menjawabnya dengan merujuk kepada teori Freud. Orang-orang modern, dalam pandangan Freud, adalah orang-orang yang sakit jiwa. Mereka adalah orang-orang yang terhambat dalam perkembangan kepribadiannya. Mereka hanya mengejar kenikmatan dalam makan dan minum saja. Atau, paling tidak mereka terhambat pada tingkat genital. Mereka seperti anak-anak, masih mencari kenikmatan dalam mempermainkan alat kelaminnya.
Lembaga-lembaga modern dibuat untuk memenuhi kebutuhan itu: makan, minum, dan seks. Bisnis makanan sampai sekarang adalah sektor usaha yang paling banyak menyedot uang. Saya dengar aset bulanan suatu restoran fast food di Indonesia mencapai puluhan milyar rupiah. Jadi, puluhan milyar rupiah dikeluarkan oleh orang Indonesia, hanya untuk membeli sepotong burger saja. Rata-rata orang Indonesia mengeluarkan lebih dari 75% dai penghasilannya untuk makan dan minum.
Orang-orang modern adalah orang yang kerjanya menumpuk kekayaan. Ia akan memperoleh kenikmatan dengan melihat banyaknya kekayaan yang dimilikinya.
Saya ingin memberikan contoh sederhana. Dulu, di salah satu kampung yang bertetangga dengan kampung saya, ada seorang ibu yang dikenal sebagai orang kaya (kaya dalam ukuran kampung). Tetapi sehari-hari dia hanya makan dengan nasi yang amat sedikit. Lauk pauknyapun ia cari sendiri dengan merendam dirinya di sungai untuk memperoleh ikan. Pakaian yang biasa dipakainya pun sangat sederhana. Ketika ia meninggal dunia, lemarinya dibuka. Ajaib, lemari itu penuh dengan pakaian yang bagus-bagus. Orang tidak pernah melihat ia memakai pakaian-pakaian itu. Semua orang kampung kebingungan. Bagi saya, ibu itu adalah contoh orang menderita sepanjang hidupnya. Kenikmatan yang ia peroleh tidak dalam mempergunakan seluruh harta dan barangnya. Ia memperoleh kenikmatan ketika ia membuka lemari dan memandang hartanya itu seraya berkata pada dirinya, “Semua ini milikku”.
Orang kota juga banyak yang seperti itu. Mereka memperoleh kenikmatan dalam membaca laporan depositonya di bank. Kalau dia ingat, dia membuka lemari dan menyibak lembaran-lembaran depositonya. Ia tidak ingin menggunakan depositonya karena takut jumlah uang itu akan berkurang. Ada juga orang yang membeli barang berharga dan memperoleh kenikmatan dengan melihat tumpukan barang-barang itu.
Menurut Sigmund Freud, orang yang seperti itu tertahan dalam tahap yang kedua, yaitu tahap kenikmatan melihat kotoran. Penumpukan kekayaan yang dibeli dengan pengeluaran itu sebetulnya adalah pemuliaan atau sublimasi dari kenikmatan melihat kotoran. Freud juga memandang bahwa kekayaan-kekayaan yang ditumpuk itu adalah kotoran. Manusia yang senang menumpuk kekayaan - menurut Freud - terhambat pada periode anal.
Pada sisi lain, manusia yang tidak mengalami fiksasi akan memasuki tahap kebutuhan yang lebih abstrak misalnya kebutuhan intelektual, kebutuhan akan ilmu pengetahuan dan informasi. Ia akan memperoleh kenikmatan dalam mengumpulkan informasi, atau menyampaikannya. Informasi itu sesuatu yang abstrak.
Abraham Maslow membuat piramida kebutuhan manusia. Semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula kebutuhannya. Pada tingkat yang paling bawah, manusia hanya memenuhi kebutuhan makan dan minum saja. Ia hanya memuaskan kebutuhan biologisnya saja. Bila kebutuhan biologis itu sudah terpenuhi, kebutuhannya akan naik pada tingkat yang selanjutnya. Kebutuhan di atasnya adalah kebutuhan akan kasih sayang, ketentraman dan rasa aman. Lebih atas lagi adalah kebutuhan akan perhatian dan pengakuan. Lebih tinggi dari itu adalah kebutuhan akan self-actualisation atau aktualisasi diri.
Di dalam Islam, hal itu disebut kebutuhan akan al-takamul al-ruhani, proses penyempurnaan spiritual. Itulah tingkat yang paling tinggi dalam kebutuhan manusia.
Dari uraian yang panjang ini, kita bisa menyimpulkan : semakin dewasa seseorang, semakin abstrak kebutuhannya. Kebutuhan yang paling tinggi ialah orang ketika orang berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ruhaniahnya bukan kebutuhan-kebutuhan jasmaniahnya. Itulah orang yang sudah sangat dewasa.
Di bulan Ramadhan sebenarnya kita dilatih untuk mengembangkan kepribadian kita. Kita meninggalkan tingkat oral, anal dan genital untuk mikraj ke tingkat ruhaniah yang lebih tinggi. Pada siang hari di bulan puasa, kita berlatih untuk meninggalkan masa kanak-kanak kita. Periode Oral kita dikekang dengan tidak makan dan minum. Kitapun mencoba untuk meninggalkan tahap genital dengan meninggalkan nafsu seks kita pada waktu kita berpuasa. Pada bulan Ramadhan, kita belajar menjadi dewasa. Di bulan ini, kita berusaha memenuhi kebutuhan ruhaniah kita. Kita berusaha menanggalkan keterikatan pada tubuh kita dan mulai memperhatikan kebutuhan ruh kita. Kita adalah gabungan antara ruh dan tubuh, tapi dalam kenyataan sehari-hari kita terikat sekali dengan tubuh kita.
Seseorang yang sudah sampai pada tingkat yang keterikatan pada ruhnya lebih besar daripada keterikatan pada tubuhnya, akan mampu untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. Orang yang sangat terikat dengan tubuh, akan mudah sekali dipengaruhi oleh perubahan cuaca. Dia bisa kedinginan kalau suhu udara turun. Dia bisa kegerahan kalau suhu udara naik. Sedangkan orang yang sudah lebih terikat kepada ruh, akan bisa mencipta. Dia bisa membuat tubuhnya hangat ketika udara amat dingin.
Menurut Murthadha Muthahhari, salah satu tahap dalam wilayah atau kewalian seseorang adalah tahap ketika sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dia tidak akan marah ketika seharusnya marah. Dia tidak ingin membalas dendam ketika semestinya ia membalas dendam. Dia tidak sakit hati ketika orang menyakiti hatinya. Nafsunya sudah terkendalikan.
Menahan makan dan minum serta menahan diri dari perbuatan zina sudah termasuk tingkat wilayah yang paling awal. Jadi, pada saat bulan puasa, insya Allah, kita akan menjadi wali-wali Allah pada tingkat yang paling elementer.
Jika orang sudah berhasil mengendalikan seluruh hawa nafsunya, dia akan naik kepada wilayah yang kedua, yaitu ketika ruhnya sudah bisa mengendalikan tubuhnya. Tingkat ketiga, ialah ketika ruhnya sudah bisa mengendalikan gerakan alam sekelilingnya. Kalau ia menyatakan sesuatu itu jadi, maka terjadilah sesuatu itu. Kalau ia meminta supaya pohon itu berbunga maka berbungalah pohon itu. Dari dirinya memancar sesuatu yang menggerakkan dan menggoncangkan seluruh molekul di sekitarnya.
Menurut Muhammad Iqbal, orang seperti itu adalah orang yang sudah bisa menentukan takdirnya. “Kembangkan dirimu begitu rupa kata Iqbal, “sehingga Allah akan menetapkan takdirnya, Dia akan berkonsultasi dulu denganmu.” Kalau Allah akan mematikan kamu, Dia akan bertanya dulu : Apakah kamu akan mati sekarang atau nanti. Orang seperti ini sudah mencapai tingkat kewalian yang ketiga. Ketika dia bisa menentukan takdir, menggenggam takdir ditangannya, dan tidak lagi tunduk pada takdir. Bahkan, Allah menentukan takdirnya dengan berkonsultasi terlebih dahulu kepadanya. Bayangkanlah !
Bulan puasa adalah bulan ketika kita - paling tidak- diantarkan untuk mengendalikan hawa nafsu. Lalu bagaimana jika di bulan Puasa ada orang yang berhasil mengendalikan makan, minum dan seksnya tetapi tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya ? Itu berarti orang itu tidak masuk ke tingkat wali yang paling elementer sekalipun. Orang seperti ini tidak makan dan minum tapi mudah tersinggung. Ia mudah marah dan mencaci maki orang lain. Ia tidak bisa mengendalikan mulutnya.
Hadis Qudsi tentang puasa. Bagaimana kita meningkatkan tingkat kewalian atau wilayah kita ini ? Kita dapat berpedoman pada hadis-hadis qudsi. Hadis qudsi adalah petunjuk Allah bagi yang ingin mendekatiNya. Dengan latar belakang psikologis pada awal tadi, saya akan mengantarkan anda kepada hadis-hadis Qudsi yang membimbing kita dalam menjalankan ibadah puasa.
Dalam satu hadis qudsi, Allah SWT berfirman : “Demi keagungan-Ku, kebesaran-Ku, kemuliaan-Ku, cahaya-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendaknya di atas kehendak-Ku kecuali Aku cerai beraikan urusannya, Aku kacaukan dunianya, aku sibukkan hatinya dengan dunianya. Dan dunia tidak mendatanginya kecuali yang sudah Aku tentukan baginya. Demi keagungan-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendak-Ku di atas kehendaknya kecuali akan Aku perintahkan pada malaikat untuk menjaganya. Aku akan jaminkan langit dan bumi rezekinya. Aku akan menyertai setiap usaha yang dilakukannya. Dan dunia akan datang sambil merendahkan diri kepadanya.”
Dalam hadis di atas, Tuhan menjelaskan kepada kita salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Cara itu adalah dengan menempatkan kehendak Allah di atas kehendak kita sendiri.
Ada dua golongan manusia. Pertama, golongan manusia yang mendahulukan kehendaknya di atas kehendak Allah. Kedua, golongan manusia yang mendahulukan kehendak Allah di atas kehendaknya.Orang yang berpuasa termasuk ke dalam golongan kedua. Ia menempatkan kehendak Tuhan di atas kehendaknya sendiri. Ketika siang hari, keinginannya adalah makan dan minum, dan keinginan Allah adalah supaya ia tidak makan dan minum. Orang berpuasa akan mengutamakan keinginan Allah. Meskipun lapar, ia tidak akan penuhi keinginannya.
Pada saat yang sama, ketika kita lapar, umumnya kita mudah sekali tersinggung. Kalau kita diganggu orang, kita ingin sekali untuk marah. Namun, Allah menghendaki kita di bulan Ramadhan untuk mengekang amarah kita. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang mengendalikan marahnya di bulan Ramadhan, Allah akan menahan murkaNya pada hari kiamat nanti.” Kita menahan amarah kita demi memenuhi kehendak Allah.
Sebetulnya setiap hari kita dihadapkan pada 2 pilihan ini : Apakah akan memenuhi kehendak Allah atau memenuhi kehendak diri kita sendiri. Allah berkehendak agar kita mencari nafkah yang halal untuk membiayai keluarga kita. Bila kita memiliki kelebihan harta, Allah berkehendak agar kelebihan itu dibagikan kepada hamba-hambaNya. Tapi jika kita mempunyai kelebihan rezeki, kehendak kita adalah memakai kelebihan itu untuk memenuhi keperluan konsumtif kita. Kita tumpuk makanan berlebih untuk kita santap ketika berbuka puasa. Seakan suatu kompensasi akan ketidak-makanan dan ketidak-minuman kita di siang hari. Pada bulan puasa ini, kita kesampingkan kehendak kita. Kita utamakan kehendak Allah swt. Kita penuhi juga kehendak Allah itu dengan bersedekah sebanyak-banyaknya kepada fakir miskin dan mustadh’afin. Itulah puncak perkembangan kejiwaan manusia.
Dikutip dari: Madrasah Ruhani oleh K.H. Dr. Jalaluddin Rakhmat M.A.
Langganan:
Postingan (Atom)